PERKEMBANGAN ISLAM DI ASIA TENGGARA


Letak geografis yang berbentuk kepulauan kawasan Asia Tenggara menjadi pusat 

pelayaran dan perdagangan dunia. Agama Islam berkembang pesat di wilayah ini karena 

dakwah yang di laksanakan oleh para saudagar dunia dengan melalui metode atau jalur 

perdagangan tanpa melalui ekspansi kekuasaan atau penaklukan. Islam berkembang dan 

menjadi agama kerajaan Malaka pada abad ke-7 M.

Sebagai sebuah negara kecil yang makmur, Brunei Darussalam masih memegang 

teguh konsep kenegaraan yaitu berbentuk kerajaan atau kesultanan. Negara Brunai 

Darussalam menjamin kesejahteraan rakyatnya dan memiliki standard hidup paling tinggi 

diantara negara Kawasan asia tenggara lainnya.

A. Islam masuk Asia Tenggara

Kawasan asia tenggara secara geografis merupakan Kawasan negara yang 

berpulau-pulau yang dipisahkan lautan. Pelayaran merupakan sarana transportasi yang 

menghubungkan antar negara kepulauan dan negara luar pada zaman itu. Sebagai negara 

kepulauan yang bersifat agraris yang banyak menghasilkan berbagai tanaman dan rempah-

rempah. Kehadiran negara luar kawasan dalam hubungan perdagangan juga membawa 

berbagai macam tujuan termasuk dakwah. Agama Islam yang di bawa para pedagang yang 

datang ke Kawasan asia tenggara berkembang secara perlahan dengan metode dakwah 

secara damai. Mereka melaksanakan dakwah sambil berdagang, bersambung hubungan 

keluarga atau pernikahan dan relasi damai lainnya. Berbagai teori jalur masuknya agama 

Islam ke wilayah asia tenggara, mulai teori china, arab hingga Gujarat. 

B. Perkembangan umat Islam Kawasan Asia tenggara

1. Malaysia

Malaysia terletak di semanjung Malaka, Asia 

Tenggara. Malaysia yang ibu kotanya Kuala 

Lumpur mempunyai luas wilayah sekitar 

328.847 Km2 atau 2,5 kali pulau Jawa. 

Sebagian besar wilayahnya mempunyai luas 

1.036 Km menyeberangi laut China selatan, 

tepatnya di utara pulau Kalimantan dan 

lainnya ada di pulau Penang. Pada tahun 2002 jumlah penduduk Malaysia berkisar 

22.229.040 jiwa, bahasa resminya bahasa Melayu. Sedangkan agama mayoritas Islam 

(53 %), Budha (17 %), Konghuchu, Tao, Chinese (11%), Kristen (8,6 %) dan Hindu 

(7%). 

Malaysia terdiri dari dua bagian, Malaysia Barat dan Malaysia Timur. Malaysia 

Barat merupakan sebuah semenanjung yang tepanjang di dunia, di bagian tengahnya 

membujur pegunungan dari utara ke selatan. Pegunungan tersebut terdiri dari beberapa 

rangkaian sejajar. Daratan rendah utama adalah daratan rendah Kedah di utara, daratan 

rendah Selangor di barat, daratan rendah Johor di selatan, daratan rendah Kelantang 

dan Pahang di pantai timur. Daratan rendah di pantai timur makin ke selatan makin 

melebar.

Negara ini dipisahkan ke dalam dua kawasan oleh Laut China Selatan. Malaysia 

berbatasan dengan Thailand, Indonesia, Singapura, Brunai, dan Filipina. Malaysia 

terletak di dekat khatulistiwa dan beriklim tropika. Sebutan kepala negara Malaysia 

adalah Yang Dipertuan Agung dan pemerintahannya dikepalai oleh seorang Perdana 

Menteri. Model pemerintahan Malaysia mirip dengan sistem parlementer Westminister. 

Suku Melayu menjadi suku terbesar dari populasi penduduk Malaysia. Terdapat pula 

komunitas Tionghoa-Malaysia dan India-Malaysia yang cukup besar. Bahasa Melayu 

dan agama Islam masing-masing menjadi bahasa dan agama resmi negara. 

Penduduknya sebagian besar (61%) terdiri dari suku Melayu pribumi. 

Sedangkan masyarakat pendatang terdiri dari muslim dan non-Muslim, yaitu muslim 

dari Indonesia (Minangkabau, Jawa, Banjar, Bugis, Aceh, Mandailing) dan muslim dari 

India, China, Pakistan, Persia dan Turki. Adapun non muslim berasal dari China dan 

India. Mayoritas penduduk muslimnnya menganut sunni dan bermadzhab Syafi’i. 

Sejarah perkembangan agama Islam di Malaysia menurut Azyumardi Azra 

menyatakan bahwa tempat asal datangnya Islam ke Asia Tenggara termasuk di 

Malaysia, sedikitnya ada tiga teori. Pertama, teori yang menyatakan bahwa Islam 

datang langsung dari Arab (Hadramaut). Kedua, Islam datang dari India, yakni Gujarat 

dan Malabar. Ketiga, Islam datang dari Benggali (kini Banglades). 

Sedangkan mengenai pola penerimaan Islam di Nusantara termasuk di Malaysia, 

kita dapat merujuk pada pernyataaan Ahmad M. Sewang, bahwa penerimaan Islam 

pada beberapa tempat di Nusantara memperlihatkan dua pola yang berbeda. Pertama, 

Islam diterima terlebih dahulu oleh masyarakat lapisan bawah, kemudian berkembang 

dan diterima oleh masyarakat lapisan atas atau elite penguasa kerajaan. Kedua, Islam 

diterima langsung oleh elite penguasa kerajaan, kemudian disosialisasikan dan 

berkembang ke masyarakat bawah. Pola pertama biasa disebut bottom-up, dan pola 

kedua biasa disebut top-down. Pola ini menyebabkan Islam berkembang pesat sampai 

pada saat sekarang di Malaysia. 

Pola pertama melalui jalur perdagangan dan ekonomi yang melibatkan orang 

dari berbagai etnik dan ras yang berbeda-beda bertemu dan berinteraksi, serta bertukar 

pikiran tentang masalah perdagangan, politik, sosial dan keagamaan. Di tengah 

komunitas yang majemuk ini tentu saja terdapat tempat mereka berkumpul dan 

menghadiri kegiatan perdagangan termasuk merancang strategi penyebaran agama 

Islam mengikuti jaringan-jaringan emporium yang telah mereka bina sejak lama. 

Seiring itu pula, pola kedua mulai menyebar melalui pihak penguasa di mana istana

sebagai pusat kekuasaan berperan di bidang politik dan penataan kehidupan sosial. 

Dengan dukungan ulama yang terlibat langsung dalam birokrasi pemerintahan, hukum 

Islam dirumuskan dan diterapkan, kitab sejarah ditulis sebagai landasan legitimasi bagi 

penguasa Muslim. 

Memasuki awal abad ke-20, bertepatan dengan masa pemerintahan Inggris, 

urusan-urusan agama dan adat Melayu lokal di Malaysia di bawah koordinasi sultan-

sultan, dan hal itu diatur melalui sebuah departemen, sebuah dewan atau pun kantor 

sultan. Setelah tahun 1948, setiap negara bagian dalam Federasi Malaysia telah 

membentuk sebuah departemen urusan agama. Orang-orang muslim di Malaysia juga 

tunduk pada hukum Islam yang diterapkan sebagai hukum status pribadi, dan tunduk 

pada yurisdiksi pengadilan agama (mahkamah syariah) yang diketua hakim agama. 

Bersamaan dengan itu, juga ilmu pengetahuan semakin mengalami perkembangan 

dengan didirikannya perguruan tinggi Islam dan dibentuk fakultas dan jurusan agama. 

Perguruan tinggi kebanggaan Malaysia adalah Universitas Malaya yang kini kita kenal 

Universitas Kebangsaan Malaysia. 

Memasuki masa pasca kemerdekaan, semakin jelas sekali pola perkembangan 

Islam tetap dipengaruhi oleh pihak penguasa (top-down). Sebab, penguasa atau 

pemerintah Malaysia menjadikan Islam sebagai agama resmi negara. Warisan undang-

undang Malaka yang berisi tentang hukum Islam berdasarkan konsep Qur’ani berlaku 

di Malaysia. Di samping itu, ada juga undang-undang warisan Kerajaan Pahang 

diberlakukan di Malaysia yang di dalamnya terdapat sekitar 42 pasal di luar 

keseluruhan pasal yang berjumlah 68, hampir identik dengan hukum Islam madzhab 

Syafi’i. Pelaksanaan undang-undang yang berdasarkan al-Quran dan realisasi hukum 

Islam yang sejalan dengan paham madzhab Syafi’i di Malaysia, sekaligus 

mengindikasikan bahwa Islam di negara tersebut sudah mengalami perkembangan 

yang signifikan. 

Dengan adanya proses Islamisasi di Malaysia, peranan penting dalam 

pengembangan ajaran Islam semakin intens dilakukan para ulama atau pedagang dari 

jazirah Arab. Pada tahun 1980-an Islam di Malaysia mengalami perkembangan dan 

kebangkitan yang ditandai dengan semaraknya kegiatan dakwah dan kajian Islam oleh 

kaum intelektual, dan menyelenggarakan kegiatan keagamaan intenasional berupa 

Musabaqah Tilawatil Qur’an yang selalu diikuti oleh qari dan qari’ah Indonesia. 

Selain itu, perkembangan Islam di Malaysia semakin terlihat dengan banyaknya masjid 

yang dibangun, juga terlihat dalam penyelenggaraan jamaah haji yang begitu baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ciri Pemimpin Yang Efektif